Monday, November 04, 2013

CERMIN

Cermin : Saya Seorang Pembantu


"Semakin rendah menilai orang lain maka akan semakin merendahkan kedudukan kita dihadapan orang tersebut"

Merasa diri sebagai buruh migran yang bekerja di sektor rumah tangga dengan mayoritas dipandang berkasta rendah menjadikan saya pribadi yang sangat sensitif, mudah tersinggung serta sering merasa rendah diri.


Namun akhirnya menset di fikiran saya ini sedikit berubah setelah mengenal seorang kawan lokal Hong Kong, beberapa bulan lalu. Dia sangat berbeda dari orang-orang yang saya kenal sebelumnya dalam hal memandang dan menilai sesuatu.


Pernah suatu ketika saya terlibat obrolan "sengit" dengannya, dan ini menyangkut dengan diri dan pekerjaan saya.


Saat itu, untuk yang kesekian kalinya kami makan malam bersama. Sama seperti makan bersama kami sebelumnya, restoran elit dengan menu yang terasa  aneh di lidah jawa saya. Tidak bermaksud mengeluh atau tidak suka, sayapun sepontan bertanya "Kamu gak malu ya bawa aku ke restoran kaya gini?"


Tapi tanggapan yang saya terima sungguh di luar dugaan. Pertanyaan yang terlontar secara sepontan itu justru membuatnya mengernyutkan dahi dan dengan mata "berapi" berbalik tanya. 

"Apa yang membuatku merasa malu membawamu ke tempat ini?" 
"Apa karena kamu orang Indonesia, apa karena kamu pembantu?" lanjutnya. 
Saya hanya mampu melongo dan mengangguk untuk menjawab rentetan pertanyaannya.
"Bila demikian kamu tidak perlu merendah diri, karena pekerjaan kita sama." tambahnya. 
"Sama? mana mungkin! kamu seorang pekerja di kantor dengan gaji puluhan ribu dollar sedangkan aku pembantu rumah tangga dengan gaji yang hanya beberapa ribu saja. Dari profesi dan gaji itu saja sudah membuktikan jauhnya perbedaan kita" pungkasku menimpali pernyataannya.

"Kita sama-sama pembantu Lie, kamu membantu bossmu dengan pekerjaan rumahnya dan aku pula membantu bossku dengan pekerjaan di kantornya. Kita sama, memberikan tenaga untuk kesuksesan orang lain dengan imbalan uang. Bedanya hanya di nominal gaji dan tugasnya saja, sedangkan esensinya kita sama-sama membantu boss kita." tuturnya, membuat saya membisu untuk kesekian kalinya. 


Semenjak itu kami semakin intense bertemu dan bertukar pendapat, aku pun perlahan mulai membuang rasa minderku saat harus menemaninya jalan atau makan di luar.


Meski pandangan berbeda dan pemikiran kolot masih sering saya temui, namun berkat dukungan dan pemikirannya itu saya tidak lagi merasa tersinggung atau dibuat minder oleh berbagai persepsi itu. 


Kejadiannya beberapa hari lalu, saat itu secara tidak sengaja ada sebuah setatus yang sedikit "mencubit hati" lewat di beranda Facebook saya. 

"PEMBOKAT atau bekas pembokat harus tetap kita hormati, setidaknya dia sudah membantu kita untuk bersih-bersih." kira-kira begitu isinya (Pembokat = sebutan/panggilan yang merendahkan pembantu).

Saat itu yang ada di benak saya hanya timbul sebuah pertanyaan, apakah dia cukup terhormat bila tidak mau menghormati pembantu? Seberapa tinggi sih kedudukannya hingga begitu meremehkan pembantu dengan kata "bersih-bersih" ?

Samakah dengan penilaian teman saya yang bekerja sebagai programmer di kantor retile internasional dengan gaji puluhan ribu dollar? 

Atau....


Aaah.. anyway, setiap orang memiliki hak dan penilaian yang relatif berbeda, dan mereka memiliki hak untuk menilai sesuka hati mereka. Tapi satu pesan yang saya ingat darinya, bahwa segala bentuk penilaian yang objective maupun sepihak yang diberikan oleh seseorang akan mengidentifikasi dan mencerminkan cara fikir dan kasta moral mereka dalam kehidupannya. Semakin rendah dia menilai sesuatu maka akan semakin rendah moralnya dari yang dia nilai.


So, jangan merasa rendah diri atau minder karena keadaan and try to look any conditions from a bright side guys... :)