Friday, November 22, 2013

Catatan Harian


"Saat cinta menghampirimu disaat yang tidak seharusnya ia hadir, maka kejujuran adalah solusi untuk menghentikannya" #LC


Kini aku berdiri tepat di depan pintu masuk sebuah restoran yang kita janjikan. Siang ini aku putuskan untuk memenuhi ajakan makan siang yang sudah dia tawarkan dari seminggu yang lalu.

Senyum ramah pegawai restoran yang membukakan pintu masuk sedikit mencairkan keteganganku. Setelah mengumpulkan keberanian, kulangkahkan kaki memasuki restoran tersebut. Beberapa kali celingukan, akhirnya kutemukan juga sosok yang kucari sebelum pelayan disitu menanyaiku "sudah booking tempat, butuh berapa orang, dan ini dan itu...". Ya, aku memang tidak suka saat mereka menanyaiku, entah mengapa, risih rasanya.

Setelah pandangan kita saling beradu, ia terlihat melambaikan tangan kearahku, seolah memberi kompas pada langkahku untuk segera menghampirnya. Dan aku hanya tersenyum membalas lambaian tangan itu. Segera kuayunkan kaki menuju meja yang menghadap tangga di lantai dua restoran. Tempat yang memang biasa kita duduki saat berkunjung ke restoran itu.

"Maaf sudah membuatmu menunggu." Sapaku.
"Tidak apa, aku juga baru tiba beberapa saat yang lalu" Ucapnya dengan senyum yang juga terlukis dari kedua sudut bibirnya.
"Anyway thanks sudah mau menemaniku makan siang ini." Imbuhnya, masih dengan senyum yang mengembang.
 Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul menjawab ucapannya.

Restoran Thailand, entah mengapa dia harus memilih tempat ini. Tempat dimana pertama kali kita makan bersama, tempat dimana pertama kali dia menyatakan cintanya, tempat dimana pertama kali pula aku melukai perasaannya.
Aah Grace, begitu bodohnya diriku kala itu. Menyakiti seseorang sebaik dan selembut dia. Tapi begitulah, perasaan kadang tidak bisa untuk diarahkan. Dan mungkin, tempat ini pula yang akan kembali menjadi tempatku mengecewakannya.

"Grace.. are you ok?" Ucapannya mengejutkanku dan menarik fantasiku kembali ke kesadaranku dari kenangan beberapa bulan lalu.
"Ah ya, im ok. Sorry." Ucapku lirih.
"It's ok, gak perlu minta maaf. Apa kamu sedang ada masalah?" Tanyanya kemudian.
"Nope, mungkin aku sedikit kelelahan" Aku mencoba menutupi keterkejutanku dengan senyuman.
"So Sorry kalau ajakanku ini menyita waktu istirahatmu."
Ada nada bersalah dari kalimat yang diucapkannya, membuat diriku sedikit merasa bersalah pula.
"Tidak Andy, aku baik-baik saja." Ucapku, berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, kecuali fikiranku yang memang dalam kondisi tidak stabil. Terbawa elegi masa silam.

Entah mengapa, aku merasa gugup saat senyumnya kembali merekah. Akhirnya, kupalingkan pandanganku kesekeliling, berusaha menghindari tatapan matanya yang tajam mengarah padaku. Seolah ingin mengintip isi dalam otakku melaluinya. Dan saat itu aku baru menyadari, seperti biasa, puluhan pasang mata tengah mengawasi kami. Menatap aneh kearahku dan dia. Mungkin karena hanya akulah satu-satunya pengunjung disitu yang tidak berkulit putih dengan kedua mata sipit seperti mereka, termasuk Andy. Ya, ternyata memang hanya akulah pengunjung Indonesia di restoran ini saat itu.

Seolah dia tahu apa yang tengah aku fikirkan, digenggamnya tanganku yang sudah mendingin. Mungkin karena suhu di ruangan tersebut, mungkin pula karena suasana hatiku yang sudah diliputi rasa "minder".
 Perlahan, aku merasakan hangat dan kenyamanan dari telapak tangannya yang bertengger dipunggung tanganku. Seolah ada sesuatu, entah apa itu, yang dialirkan olehnya melalui telapak tangannya. Aku kembali menatapnya, dan kembali pula kutemukan senyuman itu. Oh Tuhan, apa yang tengah terjadi padaku. Minder, malu, deg-degan dan entah apa lagi yang menyatu dan berkecamuk di dalam hatiku.

"Tidak perlu dihiraukan" Ucapnya
"Mau makan apa, Pamelo salad with seafood?" Tanyanya kemudian, menawarkan menu yang biasa aku pesan disitu. Lagi dan lagi, aku hanya mengangguk dan melempar senyum untuk menjawabnya.

Aku seakan kehilangan kata saat harus berhadapan dengannya. Hampir seluruh jawaban dari pertanyaan yang ia lempar mampu dia jawab sendiri.
"Sebegitu fahamkah dia akan diriku?" Tanyaku membatin. Perasaan yang menghinggapiku selalu terasa tidak nyaman, merasa bersalah atau.. entah lah. Dan hal inilah yang menjadi alasanku untuk tidak memenuhi ajakannya setiap saat.

****

Menu yang kami pesan kini sudah berpindah tempat, dari piring saji kedalam lambung kami. Aku hanya menekuri sisa-sisa makanan yang masih menempel pada lekuk-lekuk piring dihadapanku. Sambil berfikir, apa yang akan aku katakan setelah ini.

"Grace. Kamu ingat? Disini pertama kali aku mengajakmu akan malam." Ucapnya memecah kebisuan yang sedari tadi memeluk kita.
"Eemh.." Jawabku singkat sambil menganggukan kepala.
"Dan kamu ingat, kini 4 bulan sudah aku menunggu jawabanmu?" Tanyanya kemudian. Lagi, aku hanya mengangguk, kemudian kutatap matanya yang mulai sendu. Ada selaksa harap yang terpancar dari kilauannya. Membuatku semakin berat untuk berkata. Berkata kejujuran yang pastinya akan mematahkan harapan itu.

"Kamu harus bisa mengutarakannya sekarang Grace, bila tidak selamanya kamu tidak akan bisa menyampaikannya." Bathinku meyakinkan diri.

Lalu kutarik nafas sedalam-dalamnya, sebelum akhirnya kuberanikan membuka suara.

"Andy, terimakasih untuk segala hal yang sudah kamu berikan padaku. Terimakasih pula atas segala kebaikan dan perhatianmu. Sungguh, sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu. Tapi..."

"Cukup Grace, tidak perlu kau lanjutkan kalimat itu. Aku sudah bisa mengetahui apa jawabanmu." Ucapnya, memotong bagian tersulit yang hendak aku sampaikan.

"Aku tahu, itu teramat sulit untuk kamu sampaikan." Lanjutnya dengan senyum yang merekah. Ya, aku tahu. Dia pasti akan melakukan hal ini. Dan itu semakin membuatku merasa bersalah terhadapnya. Kembali, digenggamnya tanganku. Seolah neyakinkanku bahwa dia tidak apa-apa.

"Andy, kenapa kamu tidak mau mendengar alasanku?" Tanyaku penasaran.
"Aku hanya tidak ingin lebih melukai perasaanku dengan mendengar penjelasanmu Grace, bagiku mengetahui jawabanmu saja sudah cukup. Dan aku juga tidak ingin membuatmu merasa lebih bersalah dengan menjelaskannya." Terangnya.

"Tapi, apakah setelah ini kita tidak bisa berteman lagi?" Tanyaku ragu.
"Of course not, kita akan tetap berteman Grace. That's true."
"Aah.. that's relief" sambungku.

Perlahan dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. Kita hanya saling melempar senyum dan kembali, kesunyian merekah diantara kita.

****

Huuuffgh.. leganya, bathinku. Seolah ada beban berat yang baru saja terlepas dari hatiku kala itu. Kendati masih belum yakin dengan keputusan yang telah kuambil dan perasaan bersalah itu ada, tapi harapanku hanya satu. Somoga tidak ada penyesalan untukku di kemudian hari.
Menyesal karena tidak menerima cintanya dan menyesal karena lebih memilih seseorang yang lebih jauh keberadaannya.

 Eeeemhh... tunggu! Memilih orang yang lebih jauh keberadaannya? Apakah aku lebih memilih setia?

Aku kira tidak seperti itu. Aku hanya ingin menjaga kepercayaan yang diberikan oleh seseorang yang hadir 10 hari lebih awal kedalam hidupku dari ungkapan cintanya Andy tempo itu. Aku yakin, mungkin hanya itu alasan yang paling tepat untuk keputusanku saat itu.

Ya, aku mengambil keputusan ini untuk diriku sendiri, it is for my own pride. Bukan demi cinta, bukan ingin setia bukan pula untuk dia yang jauh disana. Karena bagiku, menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh seseorang sama halnya dengan menjaga kehormatan diri kita sendiri.


Hong Kong, Chili and Spicy Restorant. Thursday, Nov 21st, 2013.