Sunday, November 17, 2013

Cermin : Kopi, Capuchino, dan Kita



"Aku rindu sapaan hangatmu, sehangat Capuchino pagi yang biasa kau sajikan dulu. Almira..."

Itulah pesan singkat darimu, yang membuat degupan jantungku terhenti beberapa detik, membekukan aliran darah dan waktu, melelehkan rindu lewat aliran air mataku.

***

"Capuchino satu, tanpa gula dan banyakin foam-nya, please."
Itulah kalimat pertama yang kamu ucapkan diawal pertemuan kita. Terbalut dalam outfit hitam, sepatu kulit yang mengkilat serta mata yang tak pernah lepas dari layar PC, benar-benar terlihat elegant.

Pertama, kedua, ketiga,keempat..

"Capuchino tanpa gula dengan banyak foam?" Tawarku saat menghampirimu yang terduduk di tempat biasanya kamu duduk, meja pojok dekat jendela kaca yang menghadap keluar.

Binggo...

Ternyata tawaranku akhirnya mampu memalingkan pandanganmu dari layar PC, saat wajah tampanmu menatapku heran. Seulas senyum aku lemparkan untuk mencairkan suasana, berbalas dengan senyumanmu yang maha indah. Dan, aku dibuatnya mabuk kepayang.

"Kau yang setiap kali menghantarkan kopi pagiku?" Tanyamu saat aku kembali menghampiri mejamu dengan secangkir Capuchino diatas nampan saji.
"Betul, selamat menikmati" ucapku.
"Terimakasih"
Lalu kutinggalkan kau yang masih mengumbar senyum.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah..
"Panggil aku, tanya namaku.." harapku kala itu.

"Eemh.. Sorry!"

Yess....!! Akhirnya, dugaanku tepat saaaran. Kembali, kubalikan tubuh kearahmu.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku.
"Rey! Nama saya Rey, eemh.. saya harus memanggil anda..?"

Woow.. benar-benar membuatku terpaku, Rey....?

"Hallooo..." sapanya menyadarkanku yang dibuai keterkejutan.
"Almira, panggil saya Almira" ucapku gugup saat kesadaran telah menghampiriku.
"Nama yang indah. Thanks Almira, Capuchino-nya pas sekali" ucapmu dengan mengacungkan cangkir Capuchino yang berada di genggamanmu, masih, dengan senyum mautmu.

Ya.. sejak itu, sehari, dua hari, tiga hari, empat hari...

Kita semakin intense berkomunikasi. Obrolan-obrolan santai kita akhirnya tidak lagi sebatas telpon, kini short-meeting pun sering kita lakukan, sekedar untuk menikmati waktu sore bersama secangkir kopi yang pula menambah rasa kebersamaan kita.

"Senin depan aku akan ke Canada for settled something" Ucapmu sore itu.
"Ada sedikit masalah di perusahaan sana"
"Untuk berapa lama?" Tanyaku lirih
"Belum tahu, tapi aku janji akan segera kembali begitu masalah selesai."
Terangmu meyakinkanku. Tapi tahukah, bahwa itu tidak bisa mengembalikan rasa kopiku. Kopiku hambar, rasanya memudar seiring ucapanmu tadi. Aku hanya mampu mengangguk, menyetujuimu dengan kehambaran rasa itu.

Kini, besi terbang itu menghantarkanmu, memisahkan kebersamaan kita, menghambarkan kopi-kopi yang aku teguk setelahnya, dan menyisakan sesal karena aku tak sempat mengungkapkan rasa.
Ya, rasa. Rasa yang selama ini kamu ciptakan dalam cangkir-cangkir kopi kita, rasa yang kerap menghadirkan kerinduan, rasa yang tak pernah aku duga sebelumnya. Aku jatuh cinta.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan...

Kini, telah menginjak akhir bulan kelima kepergianmu. Namun, tak pernah sekalipun kamu mengirimkan kabar ataupun pesan. Aku seakan dibuat raib dalam kehidupanmu.

Hingga pagi ini, lamunanku tersentak oleh nada SMS dari telpon genggamku.

"Rey"

"Aku rindu sapaan hangatmu, sehangat Capuchino pagi yang biasa kau sajikan dulu. Almira... kau masih tetap terlihat cantik dengan seragam itu"

"Rey, kamu disini?!" Gumamku dalam diri. Lalu, aku berlari, mengelilingi caffe, menuju meja yang mengahadap jendela kaca di sudut caffe.

Huuuuffgh... kutarik nafas panjang saat pandanganku menatap sosokmu.
Senyum menawanmu, tubuh kekarmu, wajah tampanmu, outfit hitammu dan secangkir Capuchino yang berada di genggamanmu. Ya, kamu. Sosok yang kurindukan dan kini kembali berada di hadapanku. Dan enatahlah, harus seperti apa aku ungkapkan rasa bahagiaku.

Menurutmu...??