Sunday, November 10, 2013

Cermin : MALAS

"Malas, sesuatu hal yang sepele tapi begitu berbahaya. Dia adalah tembok 
penghalang tertinggi yang akan memisahkan kita dari kesuksesan." #LC


Entahlah, sudah beberapa minggu ini diriku dipeluk kemalasan. Penyakit ini memang sangat sulit disembuhkan, selain kanker alias kantong kering dan ngantuk yang selalu akut menyerang.

Yakin deh, padahal ada keinginan dan sesuatu yang ingin kucurahkan lewat tulisan, tapi tiap kali mata menatap layar PC dan tangan sudah siap pasang aksi pasti perasaan malas akan membimbing dan mengarahkan ke tujuan yang berbeda. Mang Yusup dan Bi Pesbuk selalu terlihat lebih menarik dari situs atau folder lain yang isinya belum bisa aku selesaikan.

"Gak ngerti deh Mbok, tiap kali buka Lepy atau hape pasti fikiranku berubah haluan. Aaarrgh.. benci lah dengan keadaan ini!" Umpatku pada diri sendiri saat terlibat obrolan dengan Mbok Rosy lewat saluran telpon. 
"Lah ya piye meneh toh Ciet, yo wis dinikmati ae. Kalo lagi pengen nulis yo nuliso, tapi lek lagi koyo ngunu yo rausah kamu paksa. Daripada kamu setres nanti karena kebingungan" jawabnya dengan logat jawa yang medok, membuatku semakin bingung. Antara menuruti kemalasan atau...

Akhirnya, karena tidak terlalu ingin ambil pusing kuputuskan untuk memanjakan diri saja dengan kamalasan, hanya untuk sementara waktu fikirku. Alhasil, setiap ada waktu luang selalu ku isi dengan menonton berbagai film di situsnya mang Yusup atau hanya menengok-nengok dinding teman di situsnya bi Pesbuk, dan tanpa aku sadari ternyata hal ini berlangsung terus menerus. Ya, beberapa minggu itu aku benar-benar dibuai kemalasan, menghabiskan waktu ntuk hal yang tidak mendatangkan untung.

Hingga suatu siang, saat angin thypon bersekala 3 menyapu daerah tempatku tinggal dan kondisi kuota pulsa memaksaku keluar rumah. Saat hendak menyebrang jalan, pandanganku tertuju pada seorang nenek, mungkin usianya sekitar 80 tahunan. Beliau tengah asik mengobrak-abrik tong sampah yang bertengger di dekat penyebrangan jalan. Kuperhatikan dua kantung plastik besar berisi berbagai jenis botol minuman bekas bergelayut di tangan kirinya yang ringkih, sedang tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk isi tong sampah. Saat lampu tanda menyebrang berubah dari warna merah ke hijau, segera ku ayunkan langkah menyebrangi jalan. Kini nenek tua tadi berada tepat disampingku, terlihat jelas kerutan disekujur bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian. Punggung bungkuknya semakin dibungkukan saat  tangan beliau meraih botol plastik di dasar tong sampah. Selang beberapa langkah aku melewatinya, entah karena tersenggol oleh para pejalan kaki, entah terkena terpaan angin thypon atau apalah, tiba-tiba beliau terjatuh. Puluhan botol di dalam kantong plastiknya berserakan kamana-mana, tubuh nenek pun terkapar, membentur kerasnya paping block jalanan.

Karena tak ada seorangpun yang menghampiri, aku segera berlari kearahnya. Kucoba membantunya berdiri dan kupapah menuju emperan toko di pingir jalan, menghindari para pejalan kaki yang diburu dengan urusannya masing-masing. 
"Nyonya tak apa-apa, apakah ada yang terluka?" Tanyaku khawatir.
"Saya baik-baik saja, terimakasih nak" jawabnya. 
Setelah membantunya mengumpulkan botol-botol bekas dan memasukannya kembali kedalam kantong plastik, aku putuskan untuk segera pulang. 
"Nyonya, sebaiknya lekas pulang. Sepertinya angin akan semakin kencang nanti, sangat bahaya kalau nyonya tetap berada di luar rumah." Pesanku sebelum meninggalkannya.
"Iya nak, sekali lagi terimakasih banyak." 
Lalu kulambaikan tangan sebagai tanda perpisahan yang disambut dengan lambaian tangan dan seulas senyum dari bibir si nenek.

Sepanjang perjalanan ke rumah aku berfikir, nenek setua tadi saja masih begitu gigih memanfaatkan waktu luangnya untuk hal yang lebih baik. Mengumpulkan botol bekas disepanjang perjalanannya, entah itu pekerjaannya atau hanya iseng aku tidak begitu tahu. Tapi yang pasti, memisahkan botol plastik atau sampah jenis plastik dari sampah lain jelas membantu untuk mempermudah proses daur ulang, yang mana hal itu sangat berguna bagi lingkungan.

"Tapi mengapa aku begitu malas untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna di sela waktu luangku, padahal belajar itu akan lebih memberikan keuntungan daripada hanya menonton film di tempatnya mang Yusup ya?"

Eemmh... Bagaimana dengan kalian, apakah masih senang memanjakan diri dengan kemalasan atau sudah mau menggunakan waktu luangnya untuk hal yang lebih bermanfaat juga...??

Hayoooo.... ;)