Friday, April 18, 2014

Cerpen : Gladies Expresso

IMAGE MAY BE SUBJECT TO COPYRIGHT


Kakiku terhenti didepan salah satu caffe berpintu dan dinding serba kaca. Kuamati dua kursi yang saling berhadapan, tersekat oleh meja bulat di depannya, disalah satu sudut ruangan. Tak terelak, khayalku menari, menelusuri ruang waktu dan membawa kembali ingatanku pada masa beberapa tahun silam. Tak ingat pasti kapan, tanggal, hari dan bulannya, yang membekas hanya kenangan manisnya. Manis, semanis Gladies.

******

Kita terbiasa menghabiskan waktu sore bersama, mengerjakan tugas kuliah atau hanya bersenda gurau. Secangkir expresso pahit nan nikmat menjadi perekat kebersamaan kita. Ya, disitu, di kursi itu, hotspot corner caffe yang saat ini tengah kutelanjangi dengan mata.

Pengunjungnya sudah tak seramai dulu, kondisinya sudah tak lagi se-cozy saat itu. Kursi di sudut favorite kita pun sudah tak sama, hanya lukisan di dinding dalam yang hingga kini masih tetap tergantung di tempatnya, meski sudah sedikit kusam.

*****

"Bagaimana, kamu suka?" Tanyanya di sela obrolan kami, telunjuknya diarahkan pada sebuah lukisan tak berbingkai yang tergantung di belakang tempat dudukku. Kubalikan tubuh agar apa yang dia maksud dapat kuraih dengan pandangan.
"A cup of coffee?" aku balik bertanya.
"Eemh..." Jawabnya, mengiyakan dengan anggukan. Senyumnya mengembang dengan tatap penuh harap menunggu responku.
"I liked" Jawabku, kubalas senyumnya dengan senyum yang kubuat semanis mungkin. 
"Tahu kenapa secangkir expresso yang kulukis?" 
"Karena ini caffe?" 
"Nope" 
"So...?"
"Karena aku ingin selalu mengingatmu" 
"Tapi kenapa secangkir kopi, instead of my pottret?" selidiku dengan nada menggodanya.
"Well, karena itu expresso favoritemu" terangnya sambil tertawa kecil, kemudian melenggang, meninggalkan meja kami, menuju meja chaser, dan kembali dia dengan aktivitasnya.

Kuperhatikan tubuh rampingnya berdiri di balik mesin hitam, tangan dan jemarinya cekatan, sibuk dengan berbagai orderan. Senyum ramah pun dia umbar pada setiap pelanggan yang menghampiri.

Aah.. Gladies, gadis berusia 3 tahun di bawahku, tapi fikiran dan kerja kerasnya jauh melebihiku. Pintar, sederhana dan sikap apa adanya mampu menaklukan egois dan sifat aroganku.

Ya, dia gadis sederhana yang memiliki asa tinggi menembus cakrawala. Terlahir di tengah keluarga yang sangat sederhana tidak menjadikannya putus harapan dan impian. Optimistic dan pekerja keras, itulah yang aku lihat darinya. "Mimpiku adalah kekuatanku Dhika, karena selain itu aku tidak memiliki apa-apa lagi" Ungkapnya suatu ketika disela obrolan kami. Membuatku tertegun.

****

"Dies, ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu?" tanyaku sore itu. Ada yang tak biasa terlihat dari wajah yang biasa ceria. Sebuah kekhawatiran yang pula menghadirkan khawatir di benaku.

"Tidak, aku baik-baik saja Dhika" Jawabnya. Kulihat seulas senyum masam dari bibir mungilnya.

"Really?" aku berusaha memastikan

"Emh..." dia mengangguk.

Kucoba membaca tatapan matanya yang dia lempar kearah luar jendela. Aku menelisik di setiap kedipnya, seolah ada mendung tebal yang mengantungi cairan hujan. "Aku tahu kamu tidak baik-baik saja Dies" Hasratku bertanya, namun aku urungkan untuk menghargai privasinya.

***

"Dhika, apa kamu punya waktu sore ini?" Pesan singkat darinya terpampang di kotak masuk HP-ku.

"Tentu" balasku.

Setelah jam kuliah berakhir, segera kulangkahkan kaki menuju caffe di ujung jalan, tempat Gladies part time, pula tempat kita menghabiskan waktu bersama sepulang kuliahku.

Setelah kubuka pintu kaca, tatapanku langsung tertuju pada gadis berseragam di balik meja cashier. Kulambaikan tangan kearahnya yang masih sibuk dengan pelanggan lain. 
Beberapa menit menunggu, gadis itu kini berada dihadapanku, tersenyum menyapaku dengan secangkir expresso hitam di nampan saji yang dibawanya.

"Sorry to keep you waiting" sapanya.

"That's fine Miss" jawabku menggoda, tawapun memecah diantara kami. Obrolan ringan dan hangat melantun renyah darinya, meraibkan khawatir dalam benakku yang dia hadirkan kemarin. 

"Mungkin kamu memang baik-baik saja" gumamku dalam diri. 

"Dhika, terimakasih untuk segalanya" Ucapnya.

"Terimakasih untuk apa?" tanyaku heran.

"Everything, pokoknya terimakasih saja" jawabnya dengan tawa kecil.

"Okey, aku juga. Terimakasih Gladies... Haha" dan kita kembali menyatu dengan waktu. Menikmati detik demi detik kebersamaan yang tidak pernah ingin aku tinggalkan. 

**
Seminggu telah berlalu sejak pertemuan kami itu. Sejak itu pula aku tidak pernah lagi melihatnys, baik di caffe tempat kerjanya ataupun di kampus. Aku kehabisan cara untuk melacak keberadaannya. Aku semakin kalut, mengingat waktu keberangkatanku yang hanya tinggal menghitung hari. Ya, beberapa hari lagi aku harus meninggalkan tanah air untuk melanjutkan kuliahku di negeri Kangguru. Aku berharap sebelum kepergianku itu aku bisa bertemu dengannya, setidaknya menatap wajah dan senyum manisnya. 
"Gladies, kamu dimana...?" Puluhan bahkan ratusan SMS senada itu kucoba kirim ke nomer HP-nya, tapi tak ada satupun yang terkirim. 
"Inikah makna terimakasihmu?"

*

Kakiku terhenti didepan salah satu caffe berpintu dan dinding serba kaca. Kuamati dua kursi yang saling berhadapan, tersela oleh meja bulat di depannya, disalah satu sudut ruangan. Saat mataku menelanjangi sudut demi sudut caffe yang menyegarkan ingatan 4 tahun silam, seorang wanita berjilbab abu-abu dengan jeans dan kemeja putih terlihat menghampiri kursi di sudut itu. Tangannya menggenggam secangkir kopi dan matanya menatap lukisan yang tergantung di hadapannya. Kini, ia menolehkan kepala, menatap ke arah luar jendela, menangkapku yang berdiri dan memperhatikannya. 

Samar, raut wajahnya terlihat tak asing di mataku. Meski rambut hitamnya kini terbalut kain syar'i tapi aku masih sangat jelas mengenalinya. 

"Gladies, itukah kamu?" tanyaku membathin. Tak membuang waktu, aku berlari ke arah caffe, kutarik gagang pintu kaca dan segera menghampirinya.

"Gladies, kamukah ini?" Tanyaku tanpa basa-basi.
"Dhika....?" Tanyanya dengan nada terkejut.
Setelah saling bertanya kabar kami terhanyut dalam cerita. Menuturkan kisah yang terlewati tanpa bersamaan. 

Entah disadari atau tidak, lekat kuperhatikan setiap lekuk wajahnya. Gadis yang begitu aku rindukan. Tidak banyak yang berubah, mata beningnya, senyum manisnya, semua masih sama.

"Gladies" ucapku memecah kesunyian yang tercipta.
"Boleh aku tahu, mengapa kamu pergi begitu saja tempo dulu?" Sedikit ragu, aku memberanikan diri bertanya sesuatu yang selama ini mengganggu hidupku. Yang ditanya hanya diam, menundukan kepala, matanya menatap lekat pada pekat kopi, sesekali tangan dan jemarinya sibuk memainkan cangkir di hadapannya.

"Dhika, kamu tahu apa itu Jodoh?" Kini dia balik bertanya. Sedikit berfikir sebelum akhirnya aku membuka mulut.

"Jodoh, yang pasti adalah rahasia Tuhan" Jawabku tidak yakin.

"Heemmh..." Ia menarik nafas panjang kemudian menatapku lekat.

"Jodoh adalah yang menyatukan yang terpisah dan yang meyakinkan keraguan. Tuhan telah menuliskan skenario yang berbeda pada setiap umatnya." Jelasnya. Aku hanya terdiam, mencoba mencerna penjelasannya.

"Kamu tahu kenapa saat itu aku pergi begitu saja?" lanjutnya. Aku hanya menggelengkan kepala.

"Karena aku yakin, apabila Tuhan menjodohkan kita untuk bertemu maka kita akan bertemu lagi, tidak perdulia sejauh mana kita telah pergi." 

"Seperti kita saat ini?" imbuhku. 

Kami tersenyum, dan kini kerinduan telah musnah, hilang bersama keraguan yang larut dalam expresso di cangkir kita.